Wednesday, 5 July 2017

Busway dan Motorway

"Memangnya itu motorway?"

Kalau sedang malas pergi sendirian, saya suka ajak adik-adik saya ikutan pergi. Padahal pergi ngurus ini itu yang malah bikin ribet kalo diajak. Yaa tapi saya senang aja sih. Mereka juga bisa sampe berantem nentuin siapa yang lebih pantas ikut.

Kali ini, saya pergi naik busway transjakarta. Saya sudah beberapa kali mengajak mereka naik busway yang kalau datang mereka teriak "Kak, itu busway Crocol!" Padahal Grogol :") Crocol mah sambel di crocol?

Di perjalanan,  saya ga terlalu merhatiin jalanan sampe si Yaya bilang "Itu motor kenapa di tempat busway, sih." Ala ala anak kecil yang polos dan kritis. Karena ga merhatiin, saya jadi nengok dulu ke motornya sambil nyaut "Yeu, tau nih, memangnya ini motorway??"

Ngerti juga ya anak kecil, busway ya buat bus. Sambil mikir, saya pun terpelatuq. Ya, memang saya menyalahkan tu motor, sih, ngapain dah di busway. Tapi, dipikir pikir bukan juga diri ini suci dan tidak penuh dosah.

Sehari-hari ini penuh sama kesalahan kesalahan yang kita tau itu salah. Parah ya? Dengan dalih "Ah, yang lain juga sama kok" atau "Ini urusan saya sendiri kok", kita jadi sulit sekali menghindari dan keluar dari kebiasaan tersebut. Dengan segala dosa, sanksi, dan hal buruk dan hal yang mempersulit lainnya, saya rasa jawaban terbaik ada di diri masing masing. Mau berubah apa ngga. Sudah sadar, tapi kapan mau berhenti? Kalo udah keserempet bus dulu? Kalo udah ketauan dulu sama orang lain? Kalau udah kena hukuman dulu? Kalo yang ngingetin orang yg q cinta doang?  Kalau udah dapet hidayah? Atau kalo sudah mau habis waktunya di dunia?

Kue Besar dari Ayah

Malam itu, ayah pulang dengan kue besarnya. Besar sekali. Besar sekali dan lengkap dengan merek terkenalnya. Bahkan di hari istimewa pun tak pernah mencicipi kue sebesar itu. Katanya untuk adikku yang menginginkan kue coklat karena mencicipi kue serupa di hari sebelumnya.

Malam itu, ada orang datang. Mengatakan akan menyita barang keluargaku. Ku simpan rasa tahu ku tentang itu. Ku lirik kue besar itu.

Malam itu, kubangun mengintip ayahku. Sedang melambungkan doanya dengan sujud dalam gelap. Ku lirik kue besar itu.


Kue besar yang ku yakin tak murah harganya. Besarnya harga bukanlah penghalang besarnya cinta untuk keluarganya. Tak peduli beban lain yang juga harus ia terima. Sedang besar cintanya yang lain ia lambungkan langsung kepada Sang Pencipta. Doa untuk kebahagiaan anak anaknya.

Sunday, 17 July 2016

Saliva: Cairan di Mulut yang Multifungsi


Tidak sekedar menjadi cairan yang nangkring di mulut, saliva, atau sering kita sebut air liur ini memiliki banyak fungsinya. Ternyata, sampai air liur pun di desain berfungsi sebaik mungkin di tubuh kita sampai membantu pencernaan kita secara enzimatik karena memiliki enzim pencernaan yaitu alfa amilase ptialin dan lipase lingual. Amilase akan mengubah polisakarida menjadi disakarida (rangkaian pencernaan karbohidrat) untuk selanjutnya dilanjutkan menjadi zat yang lebih sederhana lagi di usus halus. Sungguh peristiwa yang rumit namun terstruktur. Cairan ini dihasilkan sebanyak kurang lebih 1500 ml/hari atau sebanyak botol air mineral ukuran besar! WOW! Bersyukurlah. (Alhamdulillah)